Langsung ke konten utama

Ini bukan cerita mondok.. Tapi soal pondok..

6 tahun di Pondok ditambah 1 tahun pengabdian apakah lama?
Kalo mau dihitung2 tidaklah lama.. yg menjadikan lama dan berat adalah kita sendiri.. Waktu mau bagaimana pun akan berjalan tanpa bisa kita paksa berhenti. Yg perlu adalah dinikmati dan diisi dengan yg menjadikan hati terasa ringan tanpa paksaan dan tanpa tekanan.

Orang akan bilang yahh itu mah enak dilisan.. nyatanya anak saya ngk betah di pondok..
 

Klo memang demikian yuk kita lihat dari sudut pandang yg banyak.
1. Cari sebab kenapa anak tidak betah. Apakah dr eksternal? Ataukah internal?
Anda sudah mendapatkan jawabannya? Klo sudah mari lanjutkan ke tahap berikutnya..
2. Jika itu eksternal maka mari lihat apakah dr pondok ataukah dr luar pondok?
Klo di pondok maka penanganan mudah yaitu kolaborasi dengan pengurus pondok. Baik dengan wali kelas, kesatrian dan jajaran2 yg ada. Percayalah kepada mereka jika memang kasusnya ada di dalam pondok.
Klo dr luar pondok, bisa jadi karna teman ketika di luar. Maka berikan edukasi kepada anak bagaimana jika di luar dan jika di pondok. Berikan pertimbangan kepada mereka mana yg baik dan mana yg buruk. Ajak mereka untuk melihat keprihatinan kondisi luar dibandingkan di dalam pondok. Intinya adalah ajak mereka berfikir dan menimbang masalahat dan mafsadat yg ada.
Selasai? Belum... Kita lanjutkan
3. Introspeksi diri akan apa yg telah kita ajarkan dan didik mereka sebelum memasukkan ke pondok. Bisa jadi karna kurang perhatian/tidak adanya evaluasi dalam mendidik anak dahulu menjadikan mereka tidak betah di pondok.
Contoh: Anak sudah dibiasakan atau bahkan diberikan HP sendiri. Sedangkan di pondok tidak boleh membawa HP. Maka jangan salahkan anak terus2an tapi fikirkan fasilitas yg telah kita berikan. Dari zona yg sebelumnya mereka nyaman ke zona yg serba tidak diperbolehkan ketika di rumah. Akan ada perasaan rindu dan tidak enak di diri mereka. Kecuali dengan edukasi yg tepat dalam penggunaan HP yg menjadikan mereka tidak ketergantungan dengan HP tersebut. Dan ini berlaku pada semua hal.
Seperti kenapa ada yg merokok, ada yg kabur, ada yg mau balik dengan syarat diberikan motor, dll
Selesai? Sabar dulu.. kita lanjutkan
4. Berikan nasehat dan motivasi kepada anak akan negri akhirat. Karna bekal takwa jauh lebih penting dari bekal duniawi.
Ajak bersama-sama untuk membangun istana ke surga. Sering-sering menanyakan perihal keadaan mereka tatakala berkunjung atau telpon. Jika ada masalah segera laporkan kepada pihak terkait. Ajak mereka dalam memikirkan apa yg kelak mau dicapai. Berikan langkah yg baik untuk mencapai impian mereka.
5. Doa kepada Allah taala agar mereka mendapatkan petunjuk dr Allah taala.. dan ini nomer pertama yg perlu dilakukan dan harus terus menerus sampai ajal mendatangi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mondok lagi mondok lagi...

Rasa syukur yg luar biasa memang bisa masuk ke PP Ibnu Abbas As-salafy Sragen ini. Terhitung saya adalah alumni ke-3 di Pondok ini (Setelah resmi adanya KBM formal). Dan memang PPIA tergolong masih muda dan masih sedikit santri dan gurunya.. Beberapa guru kami ketika awal masuk:

Semakin digembleng semakin kuat.. ini masih soal Mondok

Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat” Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.