Langsung ke konten utama

Mondok lagi mondok lagi...

Rasa syukur yg luar biasa memang bisa masuk ke PP Ibnu Abbas As-salafy Sragen ini. Terhitung saya adalah alumni ke-3 di Pondok ini (Setelah resmi adanya KBM formal). Dan memang PPIA tergolong masih muda dan masih sedikit santri dan gurunya..
Beberapa guru kami ketika awal masuk:

1. Ust Kholid Syamhudi (Mudir kami)
2. Ust Juli Dermawan Juli Dermawan Hafidzahullah (Sekarang beliau di Al-Irsyad, Tengaran)
3. Ust Jabir Abu Muhammad Hafidzahullah (Beliau sekarang di PP Abu Hurairah, Lombok)
4. Ust Salim Saifulhaq Hafidzahullah (Beliau sekarang di PP Akhul Muslim, Sragen)
5. Ust Muslim Al-Atsari Hafidzahullah (Masih di PPIA)
6. Ust Tri Haryanto Abu Ukasyah Hafidzahullah (Masih di PPIA)
7. Ust Abu Said Hafidzahullah (Masih di PPIA)
8. Ust. Ahmad Faruqi (Beliau sekrang di Sulawesi)
9. Ust Abu Hudzaifah (Beliau sekarang di Lombok)
10. Ust Lukman Hafidzahullah (Beliau sekrang di PP Abu Hurairah, Lombok)
11. Ust Dwi Yuliono Hafidzahullah (Beliau sekarang di Al-Wafi, Bogor)
12. Ust Kusnanto Hafidzahullah (Masih di PPIA)
13. Ust Agus Sarwono Hafidzahullah (Masih di PPIA)
14. Ust Hasan Basri Hafidzahullah (Masih di PPIA)
15. Ada satu ustadz yg ana lupa karna beliau mengajar di kelas atas dan ketika naik kelas beliau sudah keluar dr PPIA.
[Mungkin ada alumni yg baca ini dan masih ingat bisa ditulis di kolom komentar]
Dan berjalannya waktu kemudia beberapa asatidzah bergabung di PPIA seperti:
1. Ust Rosyid Ridho Hafidzahullah (Sekarang mengajar di salah satu SD/SMP di daerah Simo, Boyolali)
2. Ust. Umar Alfanani Hafidzahullah (Beliau sekrang di Palembang)
3. Ust. Zulfaidi Hafidzahullah (Beliau sekrang di Lombok)
4. Ust. Rofiul Anwar Hafidzahullah (Beliau sekrang di PP Imam Bukhori)
5. Ust. Arifin Saifullah Abu Ahmad Hafidzahullah (Beliau sekrang di PP Al-Andalus)
6. Dan juga banyak asatidzah Khidmah yg berkhidmah di PP Ibnu Abbas seperti dari MAIS Cilacap dan Al-Irsyad Tengaran. Semoga Allah taala memberikan balasan yg paling baik untuk mereka semuanya. Aaaaamiinn

Kondisi yg mungkin bisa dikatakan sebagai kondisi yg memprihatinkan klo dipandang orang luar. Seperti yg saya katakan bahwa awal masuk di sini SPP hanya berkisar 200 rb an.. Makan gimn? Alhamdulillah masih bisa makan 😅😅
Lauk yg hampir tiap hari saya rasakan adalah: KERUPUK dan itupun klo Krupuk yg lingkarannya besar hanya dikasih 2 (Ingat ini dulu) dan ada lauk spesial di kala itu yg diberikan 1 kali dalam satu pekan. Yaitu Lele + sambel..
Sampai pada satu titik di mana ketika makan kerupuk bawaannya perut ingin memuntahkan dan sudah ngk ingin lagi makan yg namanya kerupuk..

Dan untuk sekrang gimn? Jauh-jauh lebih nikmat berkali2 lipat dibandingkan zaman dahulu.. maka perbanyaklah bersyukur...

Kembali bagaimana awal di pondok. Enak? Alhamdulillah enak dan kerasan..
Di mana teman banyak, ustadz2nya ramah, kakak kelas? Bully adek kelasnya? Atau sok2an? Alhamdulillah tidak saya dapatkan (Kecuali oknum dan itupun juga tidak sampai tahap merasa senior tapi karna ketidak sukaan secara pribadi seperti halnya ada teman yg tidak suka dengan kita)

Yg saya lihat ketika di Pondok adalah suasana di mana orang-orang dr berbagai daerah bisa bersatu di satu tempat. Tidur bersama, mandi yg sendiri-sendiri, bisa belajar bersama, dll.
Bahkan ketika itu di PPIA masih ada kelas Idad Lughowi dan Idad Duat. Ketika saya pribadi ngk faham dan pengen belajar maka kami datang kepada mereka dan meminta agar diajarkan beberapa hal yg kami tidak ketahui. Karna mereka yg sudah pernah belajar lebih dahulu.

Salah satunya adalah al-Akh Muhammad Amrullah dari Jakarta beliau sebelum lulus memberikan kepada saya beberapa kitab yg luar biasa bermanfaat. Salah satunya adalah Kisah Para Tabiin dan itu saya baca terus sampai sampulnya rusak😅😅. Semoga menjadi amal jariah beliau dan sampai sekarang ini ada mencari-cari kontak beliau. Siapa tau ada yg kenal dengan beliau bisa menginformasikan ke kami.

Ada satu hal yg perlu saya sampaikan di part ini..
Melihat di zaman tersebut bisa dikatakan bahwa komunikasi tidaklah semudah zaman sekrang ini. Kangen tinggal Video Call atau telpon WA.
Pada masa kami tidak semudah itu kawan.. HP hanyalah hape tulalit!! Tapi dari situlah kita merasa benar-benar mandiri untuk mondok dan mengingat tujuan kita di sini untuk apa.
Ada masalah maka kita akan mengutarakan kepada ustadz yg dekat dg kita. Bukan telpon orang tua merengek minta pindah, uang jajan habis WA minta uang, dll
HP kata itu ada. Tapi bayangkan untuk beli pulsa saja bisa dikatakan mahal, paket sms dan telpon tergolong mahal-mahal juga. Mau telpon ke Wartel pun juga sama mahal (di dekat pondok dulu ada warung yg menyediakan layanan telpon wartel)
Karna kondisi itulah kita selalu meningat tujuan kita di sini. Ada keluarga yg menanti kita untuk pulang dengan membawa ilmu agama dan menjadi pribadi yg lebih baik..

Kayaknya kepanjangan nih.. saya lanjutkan ke PART selanjutnya..
Oya dicatet kawan.. PPIA membuka pendaftaran santri baru di 1 Oktober. Jangan lupa daftar anak anda atau keluarga anda di PPIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semakin digembleng semakin kuat.. ini masih soal Mondok

Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat” Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.

Ini bukan cerita mondok.. Tapi soal pondok..

6 tahun di Pondok ditambah 1 tahun pengabdian apakah lama? Kalo mau dihitung2 tidaklah lama.. yg menjadikan lama dan berat adalah kita sendiri.. Waktu mau bagaimana pun akan berjalan tanpa bisa kita paksa berhenti. Yg perlu adalah dinikmati dan diisi dengan yg menjadikan hati terasa ringan tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Orang akan bilang yahh itu mah enak dilisan.. nyatanya anak saya ngk betah di pondok..