Langsung ke konten utama

Postingan

Penting!!! Yg kemrin blom selesai..

Ketika kita ingin menyekolahkan anak tentu terkadang orang tua punya tujuan dan si anak pun juga punya tujuan. Di sinilah kita harus bijak bagaimana bisa mengarahkan anak pada cita-citanya dengan rell yg benar. Bukan asal-asalan pokoknya digas sekencang-kecangnya tanpa melihat kondisi dan asal terjang.
Postingan terbaru

Sama-sama cerita Pondok tapi bukan di PPIA

Semalam diminta untuk mengisi kajian di salan satu Pondok pesantren yg mana diisi oleh anak-anak Yatim dan Duafa di dekat UNS Solo. Ada yang masih kecil sekali, mungkin umurnya 4-5 tahun. Paling besar ada yg di jenjang SMA dan kata Ustadz yg mengurusi pondok ini bahkan ada yg sekarang ini sudah kuliah. Walhamdulillah

Belajar untuk diam pada hal yg tidak perlu dikomentari (Jangan bosan soal Pondok☺️)

Mungkin anak anda pernah curhat kepada anda bahwa di Pondok aku dibully oleh temen-temen, diejek, difirnah, dll.. Kira2 apa yang anda lakukan? Silahkan tuliskan di komentar.. Pengalam pribadi dahulu saya termasuk orang yg suka diejek oleh beberapa teman saya. Apalagi kakak kelas yg ia dalam tanpa kutip intinya. Apa yang saya rasakan bisa jadi dirasakan oleh anak anda.

Semakin digembleng semakin kuat.. ini masih soal Mondok

Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat” Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.

Ini bukan cerita mondok.. Tapi soal pondok..

6 tahun di Pondok ditambah 1 tahun pengabdian apakah lama? Kalo mau dihitung2 tidaklah lama.. yg menjadikan lama dan berat adalah kita sendiri.. Waktu mau bagaimana pun akan berjalan tanpa bisa kita paksa berhenti. Yg perlu adalah dinikmati dan diisi dengan yg menjadikan hati terasa ringan tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Orang akan bilang yahh itu mah enak dilisan.. nyatanya anak saya ngk betah di pondok..

Mondok lagi mondok lagi...

Rasa syukur yg luar biasa memang bisa masuk ke PP Ibnu Abbas As-salafy Sragen ini. Terhitung saya adalah alumni ke-3 di Pondok ini (Setelah resmi adanya KBM formal). Dan memang PPIA tergolong masih muda dan masih sedikit santri dan gurunya.. Beberapa guru kami ketika awal masuk:

Lanjut lagi tentang mondok

Tepat pada tahun 2008 kelulusan saya di Min Banyuurip (Sekrang namanya MIN 8 Boyolali) Alhamdulillah Allah taala izinkan saya lulus dari sekolah ini dan rasa ingin mondok akhirnya tambah lagi. Apakah kemudian langsung masuk pondok seperti kakak yg ke-4? Tidak.. karna banyak pertimbangan klo ikut di pondok yg saat itu kakak ke 4 di sana..  Baik dr segi finansial (Klo ini orang tua mungkin akan banting tulang mencarikannya) tapi ada hal yg lebih penting yaitu kemandirian..