Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat”
Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.
Tapi perlu kita lihat klo seandainya tatakan yg untuk menahan per lemah bukannya per tersebut akan melontarkan tapi sebaliknya akan rusak/jebol tatakan tersebut.
Artinya, bahwa harus ada komponen yg saling membantu dan mendukung satu dengan yg lainnya.
Motivasi yg kuat kita umpamakan sebagai alasanya
Per itu sendiri adalah kita
Tekanan yg ada adalah problem yg kita hadapi.
Dahulu saya termasuk santri yg ingin/sempat menyampaikan kata ingin keluar/pindah dari Ibnu Abbas. Ingin melanjutkan ke tempat lain.
Tetapi apa yg orang tua saya lakukan? Mereka memberikan nasehat, mengingatkan keinginan mereka sebagai orang tua, menyampaikan bahwa anaknya tidak ingin seperti mereka, meningkatkan kehidupan yg hakiki ke arah mana dan bagaimana dengan cara mengapainya, dan satu lagi.. meningkatkan atas kondisi yg Allah taala takdirkan atas keluarga kami di saat itu.
Maka hampir setiap waktu dikala meningkat dan mengvisualkan wajah orang tua disaat itulah rasa sedih dan rindu selalu menyapa. Rasa ingin menangis selalu menjadikan terurainya air mata. Tapi setelah itu ada sebuah kekuatan yg mengatakan “Aku harus membahagiakan mereka”. Maka di saat itulah semakin semangat untuk mondok dan sabar akan keadaan yg ada.
Tidak sampai di situ. Setiap libur bulanan maka setiap mau balik ke pondok tak lupa saya diberikan nasehat dan semangat serta doa yg menyertai saya. Tidak hanya sekedar jaga diri dll. Tapi diingatkan untuk semangat dan menjadi anak yg bermanfaat untuk ummat. (Jazakumullah Khoiron Ya Walidayya)
Cobalah dekati mereka dan selalu tanya apa cita2 yg ingin mereka gapai. Langkahkan kaki mereka di jalan menuntut ilmu yg berbasis agama. Ingatkan bahwa dunia akan datang ketika seorang fokus dengan tujuan akhirat. Dan satu lagi..
Katakan kepada mereka bahwa orang tua selalu rindu akan anaknya dan ingin mereka kembali untuk membawa ilmu untuk mengajari mereka.
Satu hal yg selalu saya ingat adalah: Orang tua saya selalu mengatakan bahwa kita ini bodoh dan ingin anaknya mengajari mereka.
Saya rasa semua anak akan semangat ketika mereka diberikan amanah untuk mencari ilmu dan untuk mengajarkan ilmu yg mereka dapat untuk mengajari mereka. Wallahu alam..
Semoga Allah taala menjaga anak-anak kaum muslimin..
Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.
Tapi perlu kita lihat klo seandainya tatakan yg untuk menahan per lemah bukannya per tersebut akan melontarkan tapi sebaliknya akan rusak/jebol tatakan tersebut.
Artinya, bahwa harus ada komponen yg saling membantu dan mendukung satu dengan yg lainnya.
Motivasi yg kuat kita umpamakan sebagai alasanya
Per itu sendiri adalah kita
Tekanan yg ada adalah problem yg kita hadapi.
Dahulu saya termasuk santri yg ingin/sempat menyampaikan kata ingin keluar/pindah dari Ibnu Abbas. Ingin melanjutkan ke tempat lain.
Tetapi apa yg orang tua saya lakukan? Mereka memberikan nasehat, mengingatkan keinginan mereka sebagai orang tua, menyampaikan bahwa anaknya tidak ingin seperti mereka, meningkatkan kehidupan yg hakiki ke arah mana dan bagaimana dengan cara mengapainya, dan satu lagi.. meningkatkan atas kondisi yg Allah taala takdirkan atas keluarga kami di saat itu.
Maka hampir setiap waktu dikala meningkat dan mengvisualkan wajah orang tua disaat itulah rasa sedih dan rindu selalu menyapa. Rasa ingin menangis selalu menjadikan terurainya air mata. Tapi setelah itu ada sebuah kekuatan yg mengatakan “Aku harus membahagiakan mereka”. Maka di saat itulah semakin semangat untuk mondok dan sabar akan keadaan yg ada.
Tidak sampai di situ. Setiap libur bulanan maka setiap mau balik ke pondok tak lupa saya diberikan nasehat dan semangat serta doa yg menyertai saya. Tidak hanya sekedar jaga diri dll. Tapi diingatkan untuk semangat dan menjadi anak yg bermanfaat untuk ummat. (Jazakumullah Khoiron Ya Walidayya)
Cobalah dekati mereka dan selalu tanya apa cita2 yg ingin mereka gapai. Langkahkan kaki mereka di jalan menuntut ilmu yg berbasis agama. Ingatkan bahwa dunia akan datang ketika seorang fokus dengan tujuan akhirat. Dan satu lagi..
Katakan kepada mereka bahwa orang tua selalu rindu akan anaknya dan ingin mereka kembali untuk membawa ilmu untuk mengajari mereka.
Satu hal yg selalu saya ingat adalah: Orang tua saya selalu mengatakan bahwa kita ini bodoh dan ingin anaknya mengajari mereka.
Saya rasa semua anak akan semangat ketika mereka diberikan amanah untuk mencari ilmu dan untuk mengajarkan ilmu yg mereka dapat untuk mengajari mereka. Wallahu alam..
Semoga Allah taala menjaga anak-anak kaum muslimin..

Komentar
Posting Komentar