Langsung ke konten utama

Bicara tentang Pondok dan Pola Asuh Yang Saya Rasakan...



Alhamdulillah keluarga saya termasuk keluarga yg menjunjung tinggi nilai agama. Ibu dulu pernah mengenyam pendidikan di Pondok Langitan, Tuban Jawa Timur dan dari titik inilah rasa ingin mondok sudah tertanam dari semenjak SD.


Pasalnya ketika itu saya diajak soan ke poro yai di pondok ibu saya pernah di sana. Nampak sekali bagaimana enaknya kehidupan di pondok penuh dengan teman2 dan pokoknya yg penting ketika itu ditampakkan ke pada kami enaknya mondok (klo anak kecil yg penting asyik dulu)

Kemudian cerita berpindah ke kakak saya yg ke-4 (sekarang ini menjadi salah satu pengajar di Ponpes Imam Bukhori Solo) di mana ketika itu kakak saya sudah mau masuk SMP, akhirnya orang tua kami mengantarkan kakak saya untuk melanjutkan jenjang SMP nya di salah satu Ponpes tradisional dekat dengan rumah kakek kami di Purwodadi. Dan klo bercerita mondok beliau lebih luar biasa lagi.. Pasalnya beliau pagi sekolah formal di MTS yg klo diukur jarak pondok dengan MTS tersebut hampir 1 kilo. Dan kemudian setelah pagi di MTS sore belajar di Pondok sampai malam (Semoga Allah selalu menjaga rumah tangga beliau dan menjadikan anak-anaknya sholeh semuanya) kemudia di jenjang SMA  setelah keluarga mengenal dakwah sunnah beliau melanjutkan mondoknya di Ponpes Imam Bukhori sampai sekrang beliau mengajar di sana. 

Kembali kepada cerita saya, karna seringnya saya diajak main ke Pondok, melihat suasana di sana terasa indah dan luar biasa menjadikan saya semenjak SD sudah selalu minta agar dipondokkan langsung. Hanya saja orang tua kami selalu bilang nanti saja klo sudah lulus SD.. 

akhirnya sambil menunggu lulus SD, orang tua memasukkan saya ke TPA N* yg ada di sebelah desa saya. Dan saya ingat karna ketika itu sudah kelas 4 di MIN, akhirnya minta sama ustadznya agar saya di TPA di kelas 4 juga 😅.. dan setelah tes baca Al-Qur'an akhirnya saya diletakkan di kelas 1 😂 dan ternyata menang di kelas 1 ini banyak yg seumuran dengan kami. Di sanalah mulai mengenal B. Arab, Fikih Syafii, Khot, dll.

Akan tetapi saya tidak selesai di TPA tersebut. Bukan karna saya tidak mau belajar lagi tapi karna dijahili atau bahasa sekarang dibullying oleh kakak kelas akhirnya saya memutuskan keluar dari TPA tersebut. 

Apakah kemudian keinginan mondok belajar agama hilang? Tidak.. tetapi semangat tersebuti masih terus ada..

NB:

1. Yang mau mondok kan anaknya cobalah ajak mereka melihat kondisi pondok pesantren walau mereka masih umur muda, agar mereka tau dan punya keinginan untuk mondok.

2. Klo melihat beberapa podcast atau berita yg ada bahwa pondok sarang senioritas maka ini salah besar dan saya katakan dengan tegas orang tersebut blom pernah melihat pondok dan juga mungkin jalan-jalan untuk Explorer tempat masih minim dan hanya teori(atau mungkin baru feeling) tanpa bukti

Kita lanjutkan di next cerita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mondok lagi mondok lagi...

Rasa syukur yg luar biasa memang bisa masuk ke PP Ibnu Abbas As-salafy Sragen ini. Terhitung saya adalah alumni ke-3 di Pondok ini (Setelah resmi adanya KBM formal). Dan memang PPIA tergolong masih muda dan masih sedikit santri dan gurunya.. Beberapa guru kami ketika awal masuk:

Semakin digembleng semakin kuat.. ini masih soal Mondok

Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat” Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.

Ini bukan cerita mondok.. Tapi soal pondok..

6 tahun di Pondok ditambah 1 tahun pengabdian apakah lama? Kalo mau dihitung2 tidaklah lama.. yg menjadikan lama dan berat adalah kita sendiri.. Waktu mau bagaimana pun akan berjalan tanpa bisa kita paksa berhenti. Yg perlu adalah dinikmati dan diisi dengan yg menjadikan hati terasa ringan tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Orang akan bilang yahh itu mah enak dilisan.. nyatanya anak saya ngk betah di pondok..