Langsung ke konten utama

Saya dan Pondok Pesantren

Sekali lagi patut saya syukuri bahwa keluarga saya termasuk yg memperhatikan nilai-nilai agama dan salah satunya adalah dengan memasukkan anak-anaknya di pondok pesantren.

Kakak yg pertama, di pondokan di Pondok Muhammadiyah + Sekolah formal


Kakak yg kedua, sempat mondok di NU kemudian dijenjang SMA melanjutkan di Pondok Muhammadiyah yg sama dengan kakak yg pertama.

Kakak yg ke 3 pun juga sama di Pondokkan di Muhammadiyah di mana Kakak yg pertama dan kedua dahulu di sana.

Adapun yg ke empat talah saya bahas di #PART_1


Karna memang rasa ingin mondok itu sudah dari semenjak SD ada akhirnya klo diajak ke Pondok untuk nengok atau sekedar main amatlah sangat senang. Ketika kakak yg ke 4 ingin melanjutkan ke jenjang SMA dan ketika itu menurut cerita ibu saya, saat akan mau diambil dr pondoknya oleh bu Nyai seakan dipersulit dan klo istilah orang jawa digondeli agar kakak saya tidak keluar dan terlebih mendengar klo mau melanjutkan mondoknya di Imam Bukhori. Wallahu alam apakah waktu itu sudah terkena isu Wahabi😂 (tahun 2007/2006 klo ngk salah)

Di sini ada kisah di mana sebelum memasukkan kakak saya ke pondok, kakak ipar saya juga punya andil bersar dalam hal ini. Beliau selalu bolak balik ke IB (Selanjutnya Imam Bukhori saya singkat menjadi IB) untuk menanyakan secara detail proses dan hal-hal apa saja yg perlu disiapkan ketika mondok di IM. Dan ketika itu saya pun diajak untuk melihat-lihat Pondok IB, dan saat berkunjung saya ingat diajak ke kantor dan ketika itu lagi ada yg nonton kartun arab Habil dan Qabil) dan diajaklah saya untuk menonton.. tambah seneng dan pengen segera mondok😅😅😅


Wah.. berarti kami adalah keluarga yg mampu?

Alhamdulillah klo yg baca setatus ini husnudzon demikian. Yg penting dengan izin Allah taala kakak saya bisa belajar di IB dan ketika itu kakak saya klo ngk salah satu bulan hanya dikasih 20-30 perbulan walhamdulillah.. 

Dan karna memang kakak saya sebelumnya dr pondok lain maka di IB harus masuk ke Idad lughowi terlebih dahulu sebelum masuk SMA/Tsanawiyah.

Menurut saya ini bagus agar ketika santri yg dr luar ketika mondok sebelumnya blom bisa/blom mahir bahasa arab agar dimatangkan dalam tahap ini atau yg standarnya blom sama seperti SMPnya IB bisa menyesuaikan dengan program ini (Program Idad Lughowi hanya 1 tahun)

Pasti anak akan berfikir atau bahwa ortunya bilang wahhh nanti anak saya akan terlambat dengan anak-anak yg seusia dia.. yg lainnya sudah kuliah dia masih di SMA. Apa lagi klo di Pondok rata-rata ada program Pengabdian/Khidmah selama 1 tahun setelah SMA. Tambah terlambat donk.. 

Klo berfikir demikian maaf.. Perlu saya tanya.. 

Tujuan anda menyekolahkan anak apa? Klo mau segera kuliah dan mencari kerja silahkan sekolahkan di sekolah yg biasa saja dan yg mengajarkan agama adalah anda..

Atau mudah saja.. Silahkan mencari sekolah yg ada sistem akselerasi jika memang anak anda mampu di sana.. 

Tapi klo niatnya untuk bener2 mendalami agama maka sabarlah dan anda sudah tepat memasukkan anak anda di Pondok Pesantren.. 


Imam Syafii rahimahullah menasehati kita dengan sebuah nasehat yg luar biasa bawah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah Thulu Zaman (Waktu yg lama) 

Terakhir untuk menutup Part ini

Buah akan lezat dan nikmat ketika ia sudah matang.. Kecuali anda suka yg setengah matang atau dalam bahasa jawa Kemladak😅 maka silahkan itu selera anda.. 

Hanya saja keumuman orang suka yg matang buahnya baru merasakan nikmatnya buah tersebut... 


Kita lanjutkan di part selanjutnya


(Ponpes Ibnu Abbas dalam Miniatur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mondok lagi mondok lagi...

Rasa syukur yg luar biasa memang bisa masuk ke PP Ibnu Abbas As-salafy Sragen ini. Terhitung saya adalah alumni ke-3 di Pondok ini (Setelah resmi adanya KBM formal). Dan memang PPIA tergolong masih muda dan masih sedikit santri dan gurunya.. Beberapa guru kami ketika awal masuk:

Semakin digembleng semakin kuat.. ini masih soal Mondok

Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat” Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.

Ini bukan cerita mondok.. Tapi soal pondok..

6 tahun di Pondok ditambah 1 tahun pengabdian apakah lama? Kalo mau dihitung2 tidaklah lama.. yg menjadikan lama dan berat adalah kita sendiri.. Waktu mau bagaimana pun akan berjalan tanpa bisa kita paksa berhenti. Yg perlu adalah dinikmati dan diisi dengan yg menjadikan hati terasa ringan tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Orang akan bilang yahh itu mah enak dilisan.. nyatanya anak saya ngk betah di pondok..