Mungkin anak anda pernah curhat kepada anda bahwa di Pondok aku dibully oleh temen-temen, diejek, difirnah, dll..
Kira2 apa yang anda lakukan? Silahkan tuliskan di komentar..
Pengalam pribadi dahulu saya termasuk orang yg suka diejek oleh beberapa teman saya. Apalagi kakak kelas yg ia dalam tanpa kutip intinya.
Apa yang saya rasakan bisa jadi dirasakan oleh anak anda.
Ketika itu saya adalah anak yg suka bermain dan dekat dengan orang yg lebih tua dr saya. Ketika saya di MSW program Idad Lughowi & Idad Duat masih ada dan mayoritas yg di program tersebut adalah orang-orang yg umurnya sudah 25 keatas.
Di sisi lain saya juga senang jika dekat dengan asatidzah saya.
Hal yg wajar jika seorang santri dekat dengan ustadznya maka akan dikatakan caper(cari perhatian) atau suka wadul(B. Jawa) kepada ustadz jika ada hal yg ngk baik di kalangan santri.
Ternyata hal ini ada alasannya. Yaitu di masa SD gang rumah saya hanya diisi oleh orang-orang yg sudah dewasa/tua. Jarang sekali ada anak-anak sebaya dengan saya. Mau main seumuran harus ke RT yg lain dulu baru ada yg seumuran dengan saya. Akhirnya memang dr kecil sudah biasa bergaul dengan yg lebih tua dr saya. Sampai-sampai orang memandang pola pikir saya sudah dewasa jika disamakan dengan anak yg seumuran dengan saya.
Kembali ke sikap yg saya lalukan atas tindakan teman-teman yg membully saya. Awal-awal pastilah sedih jika kita diejek demikian. Mau bicara ke orang tua fasilitas hp susah. Dan inilah yg menjadikan saya ketika itu berfikir untuk pindah.
Akhirnya saya berfikir apakah saya akan lari dr hal ini? Dan saya selalu ingat nasehat dr ustadz saya (Ust Juli Dermawan Abu Bilal & Ust Jabir Abu Muhammad Hafidzahumallah) selalu mengatakan bahwa lari dari masalah dan kemudia pindah bukan lah solusi yg nomer 1. Bahkan pindah ke tempat lain menjadi penyakit buat diri kita. Pasalnya tatakala kita pindah dan di tempat baru tersebut ada masalah lagi maka jiwa akan mengatakan segera pindah cari tempat yg nyaman dan enjoy.
Akhirnya saya pun juga berfikir bahwa orang-orang yg mengejek saya mereka tidaklah sanggup untuk menjamin kehidupan saya baik di zaman yg akan datang. Mereka akan hilang dan ngk mau tau akan kehidupan kita kelak. Lantas buat apa kita mendengarkan ucapan mereka? Maka dr situlah ketika itu ejekan saya lebih baik diam dan tidak saya gubris☺️
Dan perlu diingat kita nih hidup selalu berdampingan dengan yg namanya masalah.
Seperti yg pernah dinasehatian oleh guru kami di STDI (Ust Dr. Muhammad Arifin Badri, MA Hafidzahullah) tatkala itu beliau memberikan sebuah perumpamaan. Seperti halnya kita ketika lapar apa yg kita lakukan? Makan. Apakah makanan tiba2 ada di depan kita? Seandainya pun tiba-tiba ada apakah kita tidak membutuhkan memasukkan makanan ke mulut kita? Setelah selesai makan kenyang apakah selesai masalah? Belum. Bisa jadi kita akan merasa kekenyangan atau ingin mengeluarkan kotoran yg ada di diri kita. Apakah langsung hilang? Tidak kita harus ke kamar mandi dan mengeluarkan dan membersihkan. Maka hakikatnya kita ini hidup dari satu masalah ke masalah lainnya.
Dari nasehat beliau inilah hakikatnya bukan pada masalahnya tapi bagaimana kita menghadapi masalah tersebut dengan arif dan bijak..
Dekati anak anda, ajak bicara dan cari bersama-sama solusi yg tepat untuk anak kita..
Kira2 apa yang anda lakukan? Silahkan tuliskan di komentar..
Pengalam pribadi dahulu saya termasuk orang yg suka diejek oleh beberapa teman saya. Apalagi kakak kelas yg ia dalam tanpa kutip intinya.
Apa yang saya rasakan bisa jadi dirasakan oleh anak anda.
Ketika itu saya adalah anak yg suka bermain dan dekat dengan orang yg lebih tua dr saya. Ketika saya di MSW program Idad Lughowi & Idad Duat masih ada dan mayoritas yg di program tersebut adalah orang-orang yg umurnya sudah 25 keatas.
Di sisi lain saya juga senang jika dekat dengan asatidzah saya.
Hal yg wajar jika seorang santri dekat dengan ustadznya maka akan dikatakan caper(cari perhatian) atau suka wadul(B. Jawa) kepada ustadz jika ada hal yg ngk baik di kalangan santri.
Ternyata hal ini ada alasannya. Yaitu di masa SD gang rumah saya hanya diisi oleh orang-orang yg sudah dewasa/tua. Jarang sekali ada anak-anak sebaya dengan saya. Mau main seumuran harus ke RT yg lain dulu baru ada yg seumuran dengan saya. Akhirnya memang dr kecil sudah biasa bergaul dengan yg lebih tua dr saya. Sampai-sampai orang memandang pola pikir saya sudah dewasa jika disamakan dengan anak yg seumuran dengan saya.
Kembali ke sikap yg saya lalukan atas tindakan teman-teman yg membully saya. Awal-awal pastilah sedih jika kita diejek demikian. Mau bicara ke orang tua fasilitas hp susah. Dan inilah yg menjadikan saya ketika itu berfikir untuk pindah.
Akhirnya saya berfikir apakah saya akan lari dr hal ini? Dan saya selalu ingat nasehat dr ustadz saya (Ust Juli Dermawan Abu Bilal & Ust Jabir Abu Muhammad Hafidzahumallah) selalu mengatakan bahwa lari dari masalah dan kemudia pindah bukan lah solusi yg nomer 1. Bahkan pindah ke tempat lain menjadi penyakit buat diri kita. Pasalnya tatakala kita pindah dan di tempat baru tersebut ada masalah lagi maka jiwa akan mengatakan segera pindah cari tempat yg nyaman dan enjoy.
Akhirnya saya pun juga berfikir bahwa orang-orang yg mengejek saya mereka tidaklah sanggup untuk menjamin kehidupan saya baik di zaman yg akan datang. Mereka akan hilang dan ngk mau tau akan kehidupan kita kelak. Lantas buat apa kita mendengarkan ucapan mereka? Maka dr situlah ketika itu ejekan saya lebih baik diam dan tidak saya gubris☺️
Dan perlu diingat kita nih hidup selalu berdampingan dengan yg namanya masalah.
Seperti yg pernah dinasehatian oleh guru kami di STDI (Ust Dr. Muhammad Arifin Badri, MA Hafidzahullah) tatkala itu beliau memberikan sebuah perumpamaan. Seperti halnya kita ketika lapar apa yg kita lakukan? Makan. Apakah makanan tiba2 ada di depan kita? Seandainya pun tiba-tiba ada apakah kita tidak membutuhkan memasukkan makanan ke mulut kita? Setelah selesai makan kenyang apakah selesai masalah? Belum. Bisa jadi kita akan merasa kekenyangan atau ingin mengeluarkan kotoran yg ada di diri kita. Apakah langsung hilang? Tidak kita harus ke kamar mandi dan mengeluarkan dan membersihkan. Maka hakikatnya kita ini hidup dari satu masalah ke masalah lainnya.
Dari nasehat beliau inilah hakikatnya bukan pada masalahnya tapi bagaimana kita menghadapi masalah tersebut dengan arif dan bijak..
Dekati anak anda, ajak bicara dan cari bersama-sama solusi yg tepat untuk anak kita..

Komentar
Posting Komentar