Ketika kita ingin menyekolahkan anak tentu terkadang orang tua punya tujuan dan si anak pun juga punya tujuan. Di sinilah kita harus bijak bagaimana bisa mengarahkan anak pada cita-citanya dengan rell yg benar. Bukan asal-asalan pokoknya digas sekencang-kecangnya tanpa melihat kondisi dan asal terjang.
Seperti halnya ketika kita ingin pergi pada suatu tujuan tentunya kita akan berusaha menyiapkan apa bekal yg akan dibawa, medanya seperti apa, adakah hal-hal yg perlu kita hindari ketika perjalanan tersebut, dll.. maka inilah orang yg bijak..
Sebuah nikmat yg sangat luar biasa memang.. tatkala kita melihat di zaman sekrang ini pondok-pondok salafy bertebaran di mana-mana.
Di daerah Karisidenan Surakarta saja sudah tergolong banyak. Seperti:
1. Imam Bukhari (Karanganyar)
2. Ibnu Abbas As-salafy (Sragen)
3. Jabal Thoriq (Sragen)
4. Khulfa Rosyidin (Solo)
5. Al-Ukhuwah (Sukoharjo)
6. Dhiyaul Quran (Sukoharjo)
7. Al-Ittiba (Klaten)
8. Ma'hadul Quran (Boyolali)
9. Al-Madinah (Boyolali)
10. JIC (Solo)
Dll (Silahkan klo mau merekomendasikan pondok yg lainnya di Karisidenan Surakarta)
Saya yakin seriap pondok punya karakteristik masing-masing. Salah satu contoh PPIA (Bukan untuk promosi. Hanya contoh)
Ketika santri baru di jenjang SMP, santri akan kami berikan sebuah program pendidikan di mana santri yang MAMPU, MAU dan IZIN ORTU diberikan program 1 tahun hafal al-Quran 30 Juz. Mereka akan ditempatkan ke pondok cabang PPIA untuk fokus pada program tersebut. Dan setelah 1 tahun mereka akan kembali ke pondok pusat untuk melanjutkan ke kelas 2-nya.
Nah mungkin pondok lain pun juga sama ada karakteristik yg dimiliki oleh pondok tersebut.
Maka perlunya orang tua untuk melihat bagaimana KURIKULUM di suatu lembaga pendidikan. Dan melihat cosh yg akan dikeluarkan untuk membiayai anaknya dengan melihat income yg ia miliki.
Apabila lembaga tersebut gratis tis dan memberikan pelayanan pendidikan maksimal jangan sampai ketinggalan.. tapi klo lembaga tersebut ada uang yg harus dibayarkan maka lihat kapasitas yg dimiliki..
Jadi klo boleh memberikan alur:
1. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pondok pesantren yg ada. Baik dari kurikulumnya, biayanya atau bahkan sampai pada fasilitasnya.
2. Lihat keuangan yg anda miliki.
3. Carilah yg pas dengan tentu seperti yg saya katakan di atas melihat keinginan anak-anak kita.
Buat apa sih harus ribet kayak gitu? Kan pondok tujuannya biar anak baik jadi ustadz, hafidz, dll
Klo ada orang tua seperti ini maaf berarti ia blom mau memperhatikan untuk kebaikan anak secara maksimal.
Karna tidak melihat kondisi keuangan akhirnya anaknya dibiarkan di pondok (bahasa kasarnya ditelantarkan) bahkan ada yg sampai tidak tau tunggakan anaknya selama di pondok. Akhirnya anaknya ketika ingin ujian dan pondok mensyaratkan harus lunas akhirnya anak dibebankan dengan pikiran tungakan dan ortu dihubungi ngk tau apa2 dan ujung2nya santrinya pasrah/stres.. okelah ketika pondok baik hati cukup konfirmasi akan komitmen mau melunasi lha ini konfirmasi saja susahnya minta ampun. Bagaimana mau agar anaknya fokus belajar?? Hanya bisa ngelus dodo (ini klo ortu yg ngk mau mikir soal anaknya di pondok atau bahasa kasarnya pasrah bongkoan)
Nah klo ortu pengen anaknya ditempatkan pondok yg mungkin orang bilang mewah dengan fasilitas yg wah.. (PPIA juga MEWAH.. MEpet saWAH😂) tapi ngk tau income yg dimiliki akhirnya ditengah jalan klo ngk kuat minta pindah yg mana kurikulum itu sudah dibuat sampai lulus dan klo ngk lulus? Akhirnya harus adaptasi dg kurikulum yg baru di pondok lain/yayasan pendidikan lain. Klo seperti ini mau sampai kapan anak kita dijadikan bola bekel. Dipantulkan sana ke sini??
Tentu yg bijak adalah melihat keinginan anak dengan melihat cosh dan income maka akan tuntaslah anak dalam belajar sesuai yg diinginkan..
Atau seperti kasus lain karna ngk mau melihat kurikulum pondok. Akhirnya sudah bayar mahal-mahal tau-taunya info dr anak gurunya jarang masuk, ngk sepadan dengan biaya yg dibayarkan. Walau kita tidak melihat uang yg kita keluarkan tapi yg kita lihat adalah proses anak kita bisa belajar dg baik. Mau itu mahal tapi proses belajarnya baik maka kenapa tidak. Lebih-lebih lagi dg dana yg murah tapi kualitas pendidikannya maksimal seperti PPIA (lho kok malah iklan) maka perlu dipertimbangkan untuk didaftarkan anak-anaknya ke sini☺️..
Ingat!!!
Nama lembaga bukan yg menjadikan anak-anak kita pintar.. tapi diri kitalah yg menjadikan ilmu itu akan masuk ke dalam diri kita
Sekedar Info: pendaftaran PPIA tinggal 5 hari lagi..
Seperti halnya ketika kita ingin pergi pada suatu tujuan tentunya kita akan berusaha menyiapkan apa bekal yg akan dibawa, medanya seperti apa, adakah hal-hal yg perlu kita hindari ketika perjalanan tersebut, dll.. maka inilah orang yg bijak..
Sebuah nikmat yg sangat luar biasa memang.. tatkala kita melihat di zaman sekrang ini pondok-pondok salafy bertebaran di mana-mana.
Di daerah Karisidenan Surakarta saja sudah tergolong banyak. Seperti:
1. Imam Bukhari (Karanganyar)
2. Ibnu Abbas As-salafy (Sragen)
3. Jabal Thoriq (Sragen)
4. Khulfa Rosyidin (Solo)
5. Al-Ukhuwah (Sukoharjo)
6. Dhiyaul Quran (Sukoharjo)
7. Al-Ittiba (Klaten)
8. Ma'hadul Quran (Boyolali)
9. Al-Madinah (Boyolali)
10. JIC (Solo)
Dll (Silahkan klo mau merekomendasikan pondok yg lainnya di Karisidenan Surakarta)
Saya yakin seriap pondok punya karakteristik masing-masing. Salah satu contoh PPIA (Bukan untuk promosi. Hanya contoh)
Ketika santri baru di jenjang SMP, santri akan kami berikan sebuah program pendidikan di mana santri yang MAMPU, MAU dan IZIN ORTU diberikan program 1 tahun hafal al-Quran 30 Juz. Mereka akan ditempatkan ke pondok cabang PPIA untuk fokus pada program tersebut. Dan setelah 1 tahun mereka akan kembali ke pondok pusat untuk melanjutkan ke kelas 2-nya.
Nah mungkin pondok lain pun juga sama ada karakteristik yg dimiliki oleh pondok tersebut.
Maka perlunya orang tua untuk melihat bagaimana KURIKULUM di suatu lembaga pendidikan. Dan melihat cosh yg akan dikeluarkan untuk membiayai anaknya dengan melihat income yg ia miliki.
Apabila lembaga tersebut gratis tis dan memberikan pelayanan pendidikan maksimal jangan sampai ketinggalan.. tapi klo lembaga tersebut ada uang yg harus dibayarkan maka lihat kapasitas yg dimiliki..
Jadi klo boleh memberikan alur:
1. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pondok pesantren yg ada. Baik dari kurikulumnya, biayanya atau bahkan sampai pada fasilitasnya.
2. Lihat keuangan yg anda miliki.
3. Carilah yg pas dengan tentu seperti yg saya katakan di atas melihat keinginan anak-anak kita.
Buat apa sih harus ribet kayak gitu? Kan pondok tujuannya biar anak baik jadi ustadz, hafidz, dll
Klo ada orang tua seperti ini maaf berarti ia blom mau memperhatikan untuk kebaikan anak secara maksimal.
Karna tidak melihat kondisi keuangan akhirnya anaknya dibiarkan di pondok (bahasa kasarnya ditelantarkan) bahkan ada yg sampai tidak tau tunggakan anaknya selama di pondok. Akhirnya anaknya ketika ingin ujian dan pondok mensyaratkan harus lunas akhirnya anak dibebankan dengan pikiran tungakan dan ortu dihubungi ngk tau apa2 dan ujung2nya santrinya pasrah/stres.. okelah ketika pondok baik hati cukup konfirmasi akan komitmen mau melunasi lha ini konfirmasi saja susahnya minta ampun. Bagaimana mau agar anaknya fokus belajar?? Hanya bisa ngelus dodo (ini klo ortu yg ngk mau mikir soal anaknya di pondok atau bahasa kasarnya pasrah bongkoan)
Nah klo ortu pengen anaknya ditempatkan pondok yg mungkin orang bilang mewah dengan fasilitas yg wah.. (PPIA juga MEWAH.. MEpet saWAH😂) tapi ngk tau income yg dimiliki akhirnya ditengah jalan klo ngk kuat minta pindah yg mana kurikulum itu sudah dibuat sampai lulus dan klo ngk lulus? Akhirnya harus adaptasi dg kurikulum yg baru di pondok lain/yayasan pendidikan lain. Klo seperti ini mau sampai kapan anak kita dijadikan bola bekel. Dipantulkan sana ke sini??
Tentu yg bijak adalah melihat keinginan anak dengan melihat cosh dan income maka akan tuntaslah anak dalam belajar sesuai yg diinginkan..
Atau seperti kasus lain karna ngk mau melihat kurikulum pondok. Akhirnya sudah bayar mahal-mahal tau-taunya info dr anak gurunya jarang masuk, ngk sepadan dengan biaya yg dibayarkan. Walau kita tidak melihat uang yg kita keluarkan tapi yg kita lihat adalah proses anak kita bisa belajar dg baik. Mau itu mahal tapi proses belajarnya baik maka kenapa tidak. Lebih-lebih lagi dg dana yg murah tapi kualitas pendidikannya maksimal seperti PPIA (lho kok malah iklan) maka perlu dipertimbangkan untuk didaftarkan anak-anaknya ke sini☺️..
Ingat!!!
Nama lembaga bukan yg menjadikan anak-anak kita pintar.. tapi diri kitalah yg menjadikan ilmu itu akan masuk ke dalam diri kita
Sekedar Info: pendaftaran PPIA tinggal 5 hari lagi..

Komentar
Posting Komentar