Langsung ke konten utama

Sama-sama cerita Pondok tapi bukan di PPIA

Semalam diminta untuk mengisi kajian di salan satu Pondok pesantren yg mana diisi oleh anak-anak Yatim dan Duafa di dekat UNS Solo.
Ada yang masih kecil sekali, mungkin umurnya 4-5 tahun. Paling besar ada yg di jenjang SMA dan kata Ustadz yg mengurusi pondok ini bahkan ada yg sekarang ini sudah kuliah. Walhamdulillah


Rasa terharu melihat mereka yg sangat antusias dalam menuntut ilmu dan luar biasanya tenang ketika bermajlis walau di situ saya lihat ada beberapa yg masih anak2 dan biasanya seumuran mereka ketika di majlis seneng2nya lagi main atau lari2 ke sama kemari. Tapi masya Allah betapa indahnya mereka dalam adab dan akhlak mereka.

Teringat akan sebuah ayat di mana kita diperintahkan agar kita berbuat baik kepada mereka salah satunya firman Allah taala:
﴿ وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ ﴾
Dalam ayat ini berbuat ihsan tidaklah hanya pada kedua orang tua dan kerabat. Akan tetapi juga kepada anak-anak yg yatim. Sebaliknya ayat-ayat yg lain melarang kita untuk menghardik mereka, menjelek-jelekkan mereka, dan menghiraukan mereka. Bahkan Allah taala menyamakan orang yg tidak memuliakan anak yatim seperti halnya dengan orang yg tidak beriman dengan hari akhir (Surat Al-Fajr :17).

Sungguh betapa rindunya kita bisa bertemu dengan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam kelak di Syurga disebabkan kita membantu anak-anak yatim.. sebagaimana Rasulullah sendiri mengabarkan kepada kita:
عن سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
Dari Sahl bin Sa'd dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah." [HR. Bukhori dan Muslim]
Al imam An-Nawawi rahimahullah dalam syarah sohih muslim menjelaskan bahwa makna dari Kafiul yatim (orang yg menaggung anak yatim) yaitu berupa: seperti memberi nafkah, baju, mengajarkan adab dan mentarbiyah mereka dan juga selain itu).
Ibnu Bathol rahimahullah di dalam Kitab Fathul Bari Syarah Shohih Bukhori berkata: Wajib bagi orang yg mendengarkan hadits ini untuk mengamalkannya. Agar kelak menjadi orang yg dekat dengan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam di Syurga dan tidaklah ada kedudukan yg lebih mulia selain kedudukan ini.

Hal yg sangat luar biasa lagi yg saya lihat adalah bagaimana kesederhanaan mereka, menerima mereka akan apa yg ada. Bukan wajah kesedihan yg saya lihat tapi senyum yg tulus menghiasi wajah-wajah mereka.
Bagaimana dengan ustadz yg mengasuhnya? Dr awal sampai akhir yg saya lihat hanyalah rasa senang dan penuh sabar yg ada pada diri beliau.
Semoga Allah taala selalu memberikan keberkahan untuk beliau.

Salah satu cara agar hati ini menjadi lembut adalah dengan dekat dengan anak-anak yatim..
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ لَهُ إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
Dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah ﷺ akan kerasnya hatinya, maka beliaupun berkata, "Jika engkau ingin hatimu menjadi lembut maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim." [HR. Ahmad]

Insya Allah kita akan belajar bersama anak2 ini dengan Kitab Adabul Mufrod setiap malam Ahad biiznillahi taala.. Semoga Allah taala memudahkan langkah kita semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mondok lagi mondok lagi...

Rasa syukur yg luar biasa memang bisa masuk ke PP Ibnu Abbas As-salafy Sragen ini. Terhitung saya adalah alumni ke-3 di Pondok ini (Setelah resmi adanya KBM formal). Dan memang PPIA tergolong masih muda dan masih sedikit santri dan gurunya.. Beberapa guru kami ketika awal masuk:

Semakin digembleng semakin kuat.. ini masih soal Mondok

Ketika itu klo tidak salah kelas 3 MSW(setara SMP) dalam pelajaran Nahwu dengan guru kami Al-Ustadz Al-Walid Hasan Basri Hafidzahullah taala. Beliau memberikan sebuah nasehat dengan kalimat yg singkat tapi serat dengan makna. Yaitu, “Jadilah seperti per apabila ia semakin ditekan maka daya dorong semakin kuat” Artinya adalah bahwa masalah/problem yg menimpa kita tidak lah menjadikan kita lemah daya dorongnya tapi akan semakin kuat untuk melontarkan suatu hal yg ingin dilontarkan dengan per tersebut.

Ini bukan cerita mondok.. Tapi soal pondok..

6 tahun di Pondok ditambah 1 tahun pengabdian apakah lama? Kalo mau dihitung2 tidaklah lama.. yg menjadikan lama dan berat adalah kita sendiri.. Waktu mau bagaimana pun akan berjalan tanpa bisa kita paksa berhenti. Yg perlu adalah dinikmati dan diisi dengan yg menjadikan hati terasa ringan tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Orang akan bilang yahh itu mah enak dilisan.. nyatanya anak saya ngk betah di pondok..